Pengantar
oleh Ayang Utriza NWAY
MA dalam Sejarah dari École des Hautes Études en Sciences Sociales (EHESS) Paris, mengajar di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan peneliti di Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta.
Lombard dan Tradisi Penulisan Sejarah Perancis
Le Carrefour Javanais adalah karya besar sejarahwan Perancis Denys Lombard yang bercerita tentang sejarah Nusantara, khususnya Jawa. Berbeda dengan para sejarahwan konvensional, Lombard tidak begitu tertarik dengan sejarah peristiwa (l’histoire événementielle) seperti karya M.C. Ricklefs Modern Indonesian History. Lombard lebih tertarik pada semua aspek sejarah, seperti teknik pembuatan kertas, perahu, batik dan hal-hal kecil lain. Dia lebih senang menuliskan sesuatu yang menurut kita, orang Indonesia, bukanlah hal yang menarik. Menurutnya, sejarah yang remeh-temeh itu menggambarkan perkembangan mentalitas dan kebudayaan suatu bangsa.
Sampai abad ke-19, penulisan sejarah di Perancis terfokus pada sejarah-sejarah politik atau sejarah-sejarah besar. Baru pada akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20 muncullah pendekatan penulisan sejarah baru (la nouvelle histoire). Tokoh pencetusnya yang terkemuka adalah Henri Berr (1863-1954). Dia mencoba membuat paradigma dan epistemologi sejarah yang baru. Tokoh lain yang mempelopori penulisan sejarah baru itu adalah Lucien Febvre (1878-1956) dan Marc Bloch (1866-1944). Belakangan dua orang inilah yang lebih dikenal sebagai pelopor la nouvelle histoire itu.
Febvre menyebut cara penulisan sejarahnya sebagai sejarah total (l’histoire totale) sementara Bloch menyebutnya sejarah menyeluruh (l’histoire intégrée). Pada tahun 1929 Febvre dan Bloch menerbitkan jurnal ilmiah La Revue Annales. Dari nama jurnal itulah, kelak muncul aliran sejarah baru, yakni madzab Annales yang sampai hari ini masih berpengaruh di dunia. Kata “Annales” itu sendiri berarti sejarah atau catatan sejarah. Ciri utama madzab Annales adalah penulisan sejarah dari berbagai aspeknya dan –yang terpenting– tidak bertumpu pada peristiwa-peristiwa besar.
Madzab Annales mencapai titik kesempurnaannya pada diri Fernand Braudel (1902-1985). Braudel ingin membedakan dirinya dari guru-gurunya. Dia menyebut proyek sejarahnya dengan istilah sejarah global atau l’histoire global. Sejarah global, kata Braudel, adalah sebuah keinginan untuk menulis sejarah yang melewati batas ambangnya, menulisnya menjadi sesuatu yang besar, tapi bukan peristiwa besar, juga bukan sejarah dunia.
Ia menulis disertasi Doktor ribuan halaman yang pada tahun 1949 diterbitkan dan menggemparkan Prancis ketika itu. Sampai saat ini masih menjadi mahakarya dunia, berjudul Laut Tengah dan Dunia Laut Tengah pada Masa Philippe II (La Méditerranée et le monde méditerranéen à l’époque de Philippe II). Dia juga menulis mahakarya seperti sejarah kapitalisme dunia (Civilisation matérielle, économie et capitalisme, XVe-XVIIIe siècles), sejarah Prancis (L’identité de la France) dan buku-induk peradaban-peradaban dunia (Grammaire des civilisations). Maka dia menyebut sejarahnya sebagai sejarah global. Hingga beberapa dekade, sejarahwan Perancis terfokus pada proyek sejarah Braudel tersebut. Sejak itu, istilah sejarah global dijelaskan sebagai sejarah yang menyangkutkan semua aspek kehidupan manusia, khas madzab Annales.
Namun sejarah global sempat mengalami ‘kemandekan,’ karena para sejarahwan terpaku pada metode Braudel yang ambisius itu. Ketika itulah Braudel mengatakan, “Sejarah ruang (l’histoire spatialisée) terutama konsep daerah adalah ranah -penulisan sejarah- yang jitu.” Di sinilah letak posisi karya Lombard. Le Carrefour Javanais merupakan jawaban langsung ketika Braudelisme mengalami kebuntuan. Lombard menangkap pesan penting ‘sang gurunya’ untuk membahas sejarah daerah dengan pendekatan gaya madzhab Annalles. Lombard membahas Jawa sebagai kajian sejarah global.
Denys Lombard adalah pengikut madzab Annales sejati. Dia tidak tertarik dengan sejarah peristiwa-peristiwa besar. Lombard juga seorang Braudelian sejati. Bukunya berjudul Le Carrefour Javanais, Essai d’Histoire Global di mana Lombard menggunakan kata histoire global jelas mengacu pada isitilah l’histoire global-nya Braudel. Lombard sangat setia mempertahankan istilah tersebut untuk karyanya. Untuk bukunya itu, Lombard menulis sejarah Jawa dari berbagai aspeknya. Ada geografi, demografi, juga aspek sosial, budaya, ekonomi sekaligus politik. Semua bidang ini dibahas oleh Lombard dalam prokyek histoire global-nya. Misalnya untuk kasus geografi dan demografi Lombard menggunakan konsep yang disebut oleh mazhab Annales sebagai l’espace atau ruang. Melalui konsep ini dia mencoba melihat masalah iklim, cuaca, dan geografi, lingkungan, orang, perbedaan orang, teknik pembuatan seperti perahu, uang, dan lain-lainnya.
Le Carrefour Javanais adalah salah satu bukti kehebatan Lombard yang hingga saat ini memiliki posisi penting di Perancis dan di Eropa sebagai contoh utama gaya tradisi penulisan sejarah baru untuk ‘kajian daerah’. Lombard mengambil seluruh data yang berkaitan dengan Jawa yang dia kumpulkan selama puluhan tahun, seperti sumber-sumber dari Barat, terutama dari masa penjajahan yang berbahasa Belanda, sumber Cina, sumber Arab, sumber sastra kuno dan data arkeologis. Yang khas, Lombard mengkaji sesuatu yang kecil-kecil, suatu hal umum, di Perancis. Bagi Lombard hal-hal yang kecil itu menunjukkan satu perkembangan sejarah tertentu, misalnya bagaimana sirkulasi teknik pembuatan patung, uang, kertas dll.
Di Perancis ada jurnal Archipel, jurnal Indonesianis Prancis, yang menuliskan sejarah-sejarah yang kecil seperti sejarah lukisan di atas kaca, pembuatan uang, kertas, akik, penterjemahan dan lain-lainnya. Di Indonesia, orang jarang menulis sejarah yang kecil seperti di jurnal Archipel, padahal itu menyangkut perkembangan mental bangsa Indonesia. Orang Indonesia cenderung menulis sejarah-sejarah politik, peristiwa besar, tokoh seperti Soeharto, Soekarno dstnya. Ini adalah gaya penulisan sejarah konvensional.
Lombard menulis sejarah dengan cara terbalik, hal biasa dalam tradisi penulisan sejarah di Perancis. Dia memaparkan sejarah modern terlebih dahulu baru melangkah ke zaman klasik. Yang ingin dia cari di Jawa adalah bahwa kebudayaan dan peradaban Jawa ini terdiri dari beberapa nebula atau jaringan (gumpalan). Menurutnya, mentalitas dan kebudayaan Jawa itu terdiri dari beberapa peradaban. Menurut Lombard, Jawa terdiri dari empat lapisan kebudayaan besar, yakni peradaban India, Islam, Cina dan Barat. Keempat lapis inilah, yang Lombard sebut sebagai nebula, yang membentuk mentalitas orang Jawa.
Tesis Lombard ini luar biasa. Misalnya, jika kita ingin melihat apa yang berkembang di masyarakat Indonesia saat ini, dengan paradigma Lombard, maka akan tampak sangat benar. Kita ingin menjelaskan bahwa di bawah mentalitas orang Jawa yang kelihatan kebarat-baratan, sangat nampak unsur Islam yang sangat kentara, tentunya bagi pemeluknya. Orang Islam di Jawa, sebagai contoh, banyak yang bergaya Barat seperti dalam berpakaian atau pilihan musik atau cara bergaul dan pandangan hidup. Namun mereka selalu merasa bersalah jika masih tersangkut beberapa hal yang dilarang dalam Islam seperti narkoba, minuman keras, seks bebas, dan judi. Ini artinya tidak konsukwen. Di Barat, bagi mereka yang memiliki pemikiran bebas, agama tidak lagi memainkan peranan penting. Karena itu, pandangan ‘dosa’ dan ‘neraka’ tidak ada bagi mereka.
Lalu di bawah itu lagi ternyata ada peradaban India yang menonjol. Orang masih tetap percaya pada sistem tanggalan, penentuan hari baik atau bulan baik dalam pernikahan, model yang datang dari tradisi dan sistem kosmologi India. Jadi, orang Jawa pada saat akad nikah memakai aturan Islam, untuk menentukan tanggal pernikahan menggunakan cara India dan pada saat resepsi pernikahan bergaya Barat dengan melantukan lagi You Raised Me Up dari Josh Groban atau The Way You Look at Me dari Christian Bautista. Ini kan luar biasa!
Bagaimana dengan Cina? Dalam jilid kedua yang membahas “Jaringan Asia” Lombard menjelaskan peran Cina dalam membentuk kebudayaan dan mentalitas Jawa. Lombard cukup menonjolkan arus Cina dalam menyebarkan Islam di Jawa, tentunya juga mentalitas dan kebudayaannya. Hal ini dapat dipahami karena Lombard adalah seorang sejarahwan yang paling menguasai sumber-sumber Cina. Jauh sebelum melakukan studinya tentang Jawa dan Aceh, studi Lombard adalah soal Cina. Satu lagi, istri Lombard adalah orang Cina, Claudine Salmon. Lombard adalah seorang sejarahwan yang obyektif. Jika kita baca cermat, dia memaparkan proses Islamisasi dari seluruh jalur. Dia mengatakan ada jalur Arab, jalur India, Bengal, dan sumbangan Persia. Kesimpulannya, Lombard ingin mengatakan bahwa islamisasi Nusantara dilakukan melalui banyak arus.
Cina juga melakukan transfer berbagai bidang keilmuan di Nusantara seperti, keramik, uang dstnya. Lombard menunjukkan bahwa orang-orang Eropa yang datang belakangan ’tinggal’ menyempurnakan rintisan Cina. Bahkan, dengan adanya politik penjajahan, peran Cina ingin dihapuskan. Belanda membedakan antara orang pribumi, Cina dan Timur Jauh. Ada ‘politik jahat’ dari pemerintah kolonial Belanda. Sikap anti Cina yang datang kemudian adalah hasil politik kolonial Belanda.
Terkait pembantaian Cina yang terjadi beberapa kali di Nusantara, misalnya, kenapa lantas Lombard juga tidak membahasnya secara detail? Jawabannya: dia memang tidak ingin terlibat dalam konflik yang masing-masing pihak bisa mengklaim kebenaran. Lombard ingin menjadi sejarawan yang subyektif, jauh dari perasaan sentimentil. Dia membahasnya tidak mendalam. Namun, khusus persoalan Cina, yang penting disimak adalah, mungkin, persoalan politik pada waktu Lombard menggarap proyek sejarahnya. Ada gerakan anti Cina yang luar biasa pada tahun 1980-an. Politik Orde Baru adalah politik anti-Cina. Cina diberikan ruang hanya pada persoalan ekonomi, itupun diperas, sementara peran dalam bidang social, politik, tentara, polisi dan lainnya dihapus. Orde Baru saat itu sangat kuat, kalau pembantaian Cina ditulis secara mendetail seperti proses pembantaiannya, orang-orangnya, dan jumlahnya, mungkin kurang ‘mendukung’ bagi Lombard dan proyeknya.
Akhirnya, tentang Barat, bagi Lombard, westernisasi sebagai dampak dari kolonialisasi dianggap sebagai proses moderninasi; sebagai proses akulturasi yang wajar.
Salah satu kritik penting terhadap karya Lombard adalah bahwa dia tidak banyak membahas secara dalam yang berhubungan dengan kolonialisme atau sejarah politik. Namun, harus kita pahami bahwa penulisan sejarah global memang menghindari terlibat terlalu jauh dalam penulisan tentang politik. Ini juga adalah konsekuensi logis dari metodologi dan epistemologi penulisan ala madzhab Annales. Lombard menghindari histoire événementielle, sejarah peristiwa, seperti perjuangan melawan penjajahan atau sejarah tokoh dan orang besar, selain itu juga, karena sejarah yang satu ini sudah banyak ditulis oleh sejarawan lain.
Seakan-akan Lombard bertanya kepada kita: apa yang bisa diambil dari penulisan sejarah yang terfokus pada satu hal, misalnya perlawanan Diponegoro? Bagaimana kita mengetahui bahwa pada saat yang bersamaan, ada perlawanan lain di tempat lain? Atau ada sebuah teknik pembuatan kertas, perahu, uang yang berkembang waktu itu, atau model kehidupan lainnya di belahan Nusantara yang mahaluas ini? Apa yang bisa diberikan dari penulisan sejarah penyerangan 11 Maret oleh Pak Harto, atau pada zaman Belanda ada pembantaian umat Islam oleh anak Sultan Agung yang didukung oleh VOC? Itu memang penting. Namun tidak cukup menjelaskan perkembangan mentalitas dan kebudayaan orang Indonesia. Sejarah global berusaha memberikan gambaran utuh tentang sejarah peradaban, kebudayaan dan mentalitas sebuah bangsa.
|