Home Profil Selayang Pandang Struktur Kontak   Bahasa Indonesia English Arabic
 
Liputan
Pemikiran Gus Dur
Pengajian
Artikel
Nuansa Pesantren
Resensi Buku
Tokoh
Jurnal Ciganjur
Sastra
Humor
Budaya
Galeri
Video
Agenda
Link
Buku Tamu
Melacak Jejak Indonesianis
 admin
 webmaster
Pemikiran Gus Dur
Membandingkan Kepemimpinan
Sabtu, 04 September 2010 12:31:34
Oleh: Abdurrahman Wahid*

Raymond White menuliskan sekitar 40 tahun yang lalu, bahwa ada perbedaan antara kepemimpinan (leadership) Richard Nixon dengan John F. Kennedy. White menggambarkan kepemimpinan model Nixon itu sebagai kepemimpinan kepala kelasi (boatswain). Ia memimpin para kelasi di ruangan bawah untuk menimba air yang masuk akibat badai dan membuangnya ke laut. Sepanjang waktu badai berlangsung ia harus siaga memimpin para kelasi untuk menjaga agar kapal mereka tidak sarat dengan air yang dibawa badai itu. Kalau ia lupa sekitar 15 menit saja, kapal yang ditumpanginya akan tengelam. Artinya, ia harus menjaga, dengan kepemimpinannya itu agar keselamatan kapal laut mereka tidak tenggelam dalam perjalanan. Kepemimpinan seperti ini sangat diperlukan dalam berbagai bidang.

Tentu saja model kepemimpinan seperti Nixon itu berbeda dari kepemimpinan Kennedy. Kalau White menamai kepemimpinan Nixon sebagai kepemimpinan yang sibuk dengan hal-hal teknis, maka kepemimpinan Kennedy justru sebaliknya. Hal itu digambarkan White sebagai kepemimpinan nahkoda kapal di anjungan kemudi. Seorang nahkoda melihat laut luas di hadapan matanya. Ketika cuaca menjadi gelap, angin mulai bertiup kencang dan hujan mulai turun, sang nakhoda akan memerintahkan sauh dibuang ke laut untuk menahan agar supaya kapal tetap berada di tempat dan layar mulai digulung agar kapal laut itu tidak dibawa angin kemana-mana. Sang nahkoda sendiri kembali ke kabinnya dan tidur di sana. Nanti, setelah ia bangun dari tidur, cuaca sudah baik, badai sudah berlalu dan angin sepoi-sepoi saja yang terasa, maka ia pun memerintahkan sauh diangkat dari laut, dan layar dikembangkan kembali. Kepemimpinan seperti ini tidak terlalu terpaku oleh rincian-rincian, melainkan lebih memperhatikan ke arah mana kapal laut harus diarahkan.
selengkapnya
Skala Prioritas lbadah
Senin, 30 Agustus 2010 23:24:41
Oleh Abdurrahman Wahid

Apa yang dilakukan para Kiai Rembang, beberapa waktu yang lalu, memang terasa aneh: membuat skala prioritas ibadah. Kalau prioritas pembangunan bukan barang baru.

Di kota pantai utara Pulau Jawa itu, seorang pemilik toko yang menjual skuter dan sepeda motor, sisa-sisa kelas pedagang santri yang jaya di masa lampau, tiap tahun melakukan ibadah haji ke Mekkah. Ibadah haji pertama memang wajib, tetapi pengulangannya tidak. Hanya diseyogyakan. Dalam istilah hukum agama (fiqh) di sebut disunahkan.

Ada yang menanyakan kepada para kiai di Rembang itu status haji sunah yang dilakukan berkali-kali, padahal ada yang lebih membutuhkan pembiayaan. Yaitu pembangunan gedung sekolah agama, alias madrasah.
selengkapnya
Syekh Mas'ud Memburu Kitab
Rabu, 25 Agustus 2010 23:22:41
Oleh Abdurrahman Wahid

Kiai Mas’ud bukan sembarang kiai. Ia diakui amat dalam pengetahuannya di bidang hukum agama. la menguasal peralatan untuk mengambil keputusan hukurn fiqh, berupa teori hukum (usul fiqh) dan pedoman hukum (qawa'id fiqh). Kedua 'alat' itu memang harus dikuasai sempurna, kalau ingin menghasilkan keputusan-keputusan hukum agama yang 'berkualitas tinggi', hingga layak disebut "syekh".

Di tahun lima puluhan, yang di panggil syekh adalah Kiai Masduki dari Lasern, karena penguasaannya atas buku teks (kitab) utama di bidang teori hukum, yaitu kitab Jam'ul Jawami. Tahun-tahun delapan puluhan ini rupanya sudah ada pengganti Syekh Masduki Lasern, yang sudah sekian tahun wafat. Dan dia itulah Kiai Mas'ud dari Kawunganten, Purwokerto.
selengkapnya
Ikut Islam yang Mana?
Sabtu, 14 Agustus 2010 17:07:09
Oleh: Abdurrahman Wahid

Penulis artikel ini tahu, bahwa judul di atas akan membuat marah banyak orang. Tetapi penulis membuat judul tersebut seperti itu karena memang kenyataan mutakhir menunjukkan hal demikian. Dalam buku yang membahas kepresidenan George W. Bush yang masih menjadi Presiden AS, disebutkan kegalauannya dalam menghubungi kaum Muslimin. Ia menyebutkan, banyak Muslim yang dihubunginya ternyata tidak mau tahu dengan tindakan-tindakan teror yang dilakukan oleh sedikit orang dalam berbagai gerakan agama tersebut. Maka sebagai seorang konservatif Kristen, ia mengalami kesulitan dalam menghubungi berbagai gerakan Islam. Walaupun ia merasa ‘bermurah hati’ untuk mengerti bahwa beberapa gerakan Islam memang berbeda cara pandang. Namun ia tidak tahu mana yang dihubunginya dan mana yang tidak. Kalau Presiden AS tidak mengetahui hal itu, bagaimana dengan orang-orang ‘awam’.

Di kalangan berbagai gerakan Islam, sebagaimana juga terjadi dengan kalangan berbagai agama yang lain, mengenal berbagai cara untuk menghubungi ‘pihak luar’. Meski demikian, tak urung juga ‘pihak luar’ itu dibuat bingung oleh pembedaan itu. Mereka dibuat bingung lagi, ketika terlontar pengakuan terus terang oleh kalangan Kristen di berbagai negara Eropa bahwa mereka memiliki partai yang bernama Uni Kristen Demokrat (CDU - Christian Democratic Union Party) yang dewasa ini tengah memerintah di Jerman dengan Perdana Menteri Angela Merkel. Di hampir semua negara Eropa, partai tersebut merupakan ‘alat politik yang terbuka’, dan memerintah karena memiliki jumlah mayoritas di parlemen. Kalau di sana boleh demikian, mengapa di negeri-negri Muslim tidak?
selengkapnya
perspektif
Peta Intelektualisme dan Tema Pokok Pemikiran Gus Dur
Jumat, 13 Agustus 2010 07:56:26
Oleh Marzuki Wahid
Kehadiran Gus Dur—panggilan akrab KH. Abdurrahman Wahid, Presiden RI Keempat dan Ketua Umum PBNU 1984-1999 yang wafat pada 30 Desember 2009—tidak  bisa dipisahkan dari sejarah kontroversi dan kenylenehan di negeri ini, utamanya sepanjang era Orde Baru. Semenjak kepulangan dari studinya di Mesir dan Irak sekitar awal 1970-an, ia mulai membuat kejutan-kejutan baru. Baik lewat tulisan-tulisannya di pelbagai media massa terkemuka saat itu, maupun lompatan-lompatan tindakannya dari bandara tradisi habitatnya, pondok pesantren, Gus Dur selalu menggulirkan wacana kritis ke hadapan publik—jika ia sendiri tidak menjadi konsumsi untuk wacana publik. Pertanyaannya kemudian: mengapa terjadi kontroversi dan mengapa dianggap nyleneh? Apakah karena faktor Gus Dur yang memicu kontroversi ataukah karena kondisi masyarakat atau negara yang belum siap menerima ajakan Gus Dur, sehingga menimbulkan kontroversi dan menganggapnya nyleneh?

Pertanyaan ini penting dimajukan setidaknya karena dua hal. Pertama, untuk menguji sejauhmana kualitas pemikiran Gus Dur di hadapan publik sehingga mampu membuat kontroversi dan di­anggap nyleneh. Kedua, sebaliknya, untuk menilai sejauhmana kedewasaan masyarakat atau negara dalam menghadapi dan menerima pemikiran-pemikiran cerdas dan tindakan-tindakan kritis yang mengagetkan di luar mainstream. Kedua hal ini memang harus dilihat dan diketahui agar kita bisa membaca secara jernih pemikiran atau tindakan Gus Dur, baik dari aspek substantif maupun dari segi pengaruh sosialnya ketika hal itu dilontarkan. Dari sini akan menjadi jelas mana dimensi ontologis dan epistemologis pemikiran Gus Dur—yang oleh beberapa ahli filsafat ilmu bisa bebas nilai—dan mana dimensi aksiologisnya yang tidak bisa mengabaikan sistem nilai di mana pemikiran itu hendak diterapkan.
selengkapnya
Yang Terbaik Ada Di Tengah
Senin, 09 Agustus 2010 02:19:14
Oleh : KH.Abdurrahman Wahid

Judul diatas diilhami oleh sabda Nabi Muhammad SAW: “ Sebaik-baik persoalan adalah yang berada ditengah “ (Khairu Al-Umur Ausathuha). Ia juga mencerminkan Pandangan agama Budha tentang “jalan tengah” yang dicari dan diwujudkan oleh penganut agama tersebut. Walaupun demikian, judul itu dimaksudkan untuk mengupas sebuah buku karya, tokoh Syi’ah terkemuka Dr. Musa Al Asy’ari, “Menggagas Revolusi Kebudayaan Tanpa Kekerasan” –dalam sebuah diskusi di kampus Universitas Darul Ulum Jombang, beberapa waktu lalu, katakanlah sebagai sebuah resensi, yang juga menunjukan kecenderungan umum mengambil “jalan tengah” yang dimiliki bangsa kita, dan mempengaruhi kehidupan di negeri ini.
selengkapnya
Tantangan Budaya Masa Kini bagi Bangsa Indonesia
Kamis, 05 Agustus 2010 18:05:42
Oleh: Abdurrahman Wahid

Orang sering bertanya, bagaimana harus kita atasi krisis multidimensi yang kita hadapi saat ini? Pertanyaan ini memerlukan jawaban yang tidak hanya bersifat sektoral saja seperti ekonomi, politik maupun pertahanan-keamanan. Karenanya, pemecahan sektoral sebagaimana diajukan oleh berbagai pihak pada tahun-tahun terakhir ini yang digunakan selama beberapa tahun ini, tidak membantu kita untuk menyelesaikan krisis itu sendiri. Mengapa? Karena jawaban secara keseluruhan belum pernah dikemukakan.

Sebelum kita memasuki bidang-bidang sektoral dalam mencari jawaban rasional untuk menghadapi dan mengatasi krisis berkepanjangan itu sebagai sebuah bangsa, bagi saya jawaban kultural yang menyeluruh adalah kunci yang bersifat umum. Langkah pertama yang harus dilakukan, adalah terlebih dahulu “menata” landasan bagi jawaban-jawaban kultural yang bersifat umum itu. Landasan-landasan itu tentu saja harus mencakup apa yang berkembang dalam diri kita secara umum setelah kita merdeka dan berdaulat secara politis sejak tahun 1945. Banyak yang telah kita capai dalam kurun waktu tersebut, sehingga kita-pun jadi tahu bahwa juga terdapat hal-hal yang “menyesatkan” kita sendiri selama ini. Melalui “kejujuran” seperti itu, kita akan memperoleh sikap memilih apa yang harus diteruskan sebagai bangsa, dan apa yang tidak boleh kita ulang secara umum di masa-masa yang akan datang. Landasan-landasan itu haruslah membuat kita sebagai bangsa berani “mengambil” apa yang baik dari masa lampau, dan “meninggalkan” apa yang buruk dalam kehidupan kita.
selengkapnya
TNI dan Demokratisasi
Minggu, 01 Agustus 2010 01:43:17
Oleh: Abdurrahman Wahid
Selama lebih dari 30 tahun TNI pernah berkuasa di negeri ini. Wajarlah kalau sekarang kecurigaan selalu diarahkan kepadanya. Segala macam hal yang menunjukkan pada melemahnya pemerintahan dan tereduksinya kebebasan bagi masyarakat sipil (civil society), selalu dianggap sebagai “upaya TNI” untuk berkuasa kembali. Dalam hal ini, penulis berpendapat hendaknya kita berhati-hati dengan tidak melakukan generalisasi atas TNI sebagai lembaga. Memang ada oknum yang mengejar ambisi pribadi, seperti memandang peranan TNI dalam politik sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup bangsa ini. Namun kenyataannya, peranan seperti itu tidak akan pernah bisa. Karena struktur serta hirarki TNI sendiri, yang bertopang atas ketundukan mutlak kepada atasan, tidak menungkinkan TNI untuk berperan demokratis tanpa kehadiran pihak sipil dalam pengendalian keadaan. Oleh karena itulah demokratisasi itu sendiri haruslah dilakukan bangsa ini bersama, termasuk ditopang oleh kemauan TNI sebagai institusi.

Penulis lahir dilingkungan orang-orang militer. Paman penulis, KH. A. Chaliq Hasyim sudah menjadi Mayor Jendral di Divisi Brawijaya sejak tahun 1948. Ia adalah salah seorang pendiri BRANI (Barisan Rakyat Nasionalis Indonesia), yang menjadi cikal-bakal jaringan lembaga intel kita. Seperti diceritakan Almarhum Yono Suwoyo yang juga Mayor Jendral TNI, ia pula yang membebaskan kota Madiun dari tangan Partai Komunis Indonesia (PKI) -terlepas dari klaim Divisi Siliwangi bahwa merekalah yang membebaskan kota tersebut.- Banyak saudara penulis lainnya dari kalangan militer, seperti ajudan Ayah penulis di masa gerilya melawan Belanda adalah seorang warga Brimob, bernama Sukirno, sekarang purnawirawan perwira pertama Polri di Surabaya.
selengkapnya
Islam: Pribadi dan Masyarakat
Jumat, 30 Juli 2010 18:00:32
Oleh: KH Abdurrahman Wahid

Sejarah perkembangan Islam dimanapun juga, senantiasa memperlihatkan jalinan antara dua hal, yaitu sistem individu (perorangan) dan sisi kemasyarakatan (sosial). Karenanya kedua hal itu harus dimengerti benar, kalau kita menginginkan pengetahuan akan agama tersebut. Dalam arti, benar-benar di dasarkan pada pengertian yang mendalam. Kalau hal ini telah dilaksanakan, maka akan kita lihat beberapa kemungkinan untuk pengembangan lebih jauh. Tentu saja ada yang menyanggah pendirian tersebut, dengan dalih Islam telah sempurna, dan tidak memmerlukan pengembangan. Dalam hal ini pendapat tersebut perlu diuji kebenarannya, agar kita memperoleh gambaran lengkap tentang apa yang seyogyanya dilakukan, dan selayaknya tidak dilakukan. Dengan kata lain, sebenarnya kita saat ini memerlukan skala prioritas yang lebih jelas, dalam menatap masa depan.

Karena kedua faktor dari agama langit ini (individu dan sosial) memiliki kelebihan dan kekurangan, maka kita merasakan perlu adanya keseimbangan antara keduanya. Yang menambah galaunya persoalan, adalah kenyataan bahwa kitab suci Al-Qur’an tidak pernah secara jelas membagi kedua masalah itu dalam kandungannya. Seluruhnya hanya bersandar pada kemampuan kita memahami kitab suci tersebut, mana yang merupakan perintah (Khitah) untuk perorangan, dan mana dan mana yang untuk masyarakat. Seluruhnya bergantung atas penafsiran kita. Umpamanya saja firman Tuhan yang menyatakan: “Dan Ku-jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku bangsa agar saling mengenal” (Wa ja’alnakum syu’uban wa qaba-ila lita’arafu). Jelas di situ, yang dimaksudkan umat manusia secara keseluruhan, dan yang dikehendaki adalah kenyataan yang tidak tertulis: persaudaraan antara sesama manusia.
selengkapnya
The Holly Book and Reality of Multiculturalism
Rabu, 28 Juli 2010 01:36:55
Oleh : KH Abdurahman Wahid (Gus Dur)
 
Saya ingin memulai dengan mengutip dari Konsili Vatikan II (Second Vatican Council) pada tahun 1963-1965 yang dipimpin oleh Paus Yohanes XXIII. Konsili tersebut menyatakan ”Kami para uskup yang berkumpul di Vatican menghormati hak setiap orang untuk mencapai kebenaran abadi. Tapi kami tetap yakin bahwa kebenaran abadi itu hanya ada dalam lingkungan gereja Katolik Roma” (We are the bishops at the Second Vatican Council taught that all people have the right to follow the teachings they believe are true, and that the Catholic teachings were “the right ones for us”) Inilah rahasia bahwa mereka Umat Katolik tetap memiliki keyakinan teguh akan kebenaran sendiri, sementara menghormati hak orang lain dalam mencapai kebenaran asing-masing itu. Sementara itu, mana yang benar kita tidak tahu karena Allah yang akan memberitahukan nanti.

Nah, keyakinan ini akan saya kaitkan dengan dengan pengertian yang ada dalam kitab suci al Qur’anul Karim. Dalam sebuah surat Allah mengatakan: “Wa ma artsalnaaka rahmatan lil alamin” (Tiadalah kuutus engkau ya Muhammad kecuali sebagai pelestari persaudaraan)
selengkapnya
Page  [ 1 of 33 ]
1
Kembali ke atas
Tokoh Resensi
Galeri
Agenda
September 2010
MgSnSlRbKmJmSb
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  
Polling
Apakah Anda Optimis akan Terjadi Perubahan di dalam tata dan kinerja organisasi NU setelah Muktamar ke-32 NU di Makassar?
 Ya. Saya sangat optimis akan terjadi perubahan yang lebih baik di NU setelah Muktamar Makassar
 Ya. saya cukup berharap akan ada perubahan di NU setelah muktamar di Makassar.
 Tidak. NU akan tetap seperti sediakala. Kalaupun ada perubahan, pasti sangat sedikit
 Tidak. Saya pesimis NU akan tetap amburadul seperti sebelumnya, terutama di bidang politik praktis. Siapapun pemimpinnya
 Arsip Polling
 
Liputan
Pemikiran Gus Dur
Pengajian
Artikel
Nuansa Pesantren
Resensi Buku
Tokoh
Jurnal Ciganjur
Sastra
Humor
Budaya
© 2009 Pesentren Ciganjur. All right reserved.Powered by BWI SOLUTION
Best viewed width IE 7 or above in 1280 x 800 monitor resolution