 |
 |
 |
 |
 |
|
 |
 |
 |
 |
 |
|
|
| |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
 |
 |
|
 |
| Melacak Jejak Indonesianis |
 |
|
|
|
| Resensi Buku |
 |
Deradikalisasi by Islam Kultural
Senin, 09 Agustus 2010 18:45:21 |
Judul : Deradikalisasi Islam, Paradigma dan Strategi Islam Kultural
Penulis : Syaiful Arif
Penerbit : Koekoesan, Depok
Cetakan : 1, Juli 2010
Halaman : vii + 151
Peresensi : Muhammad Yunus*
Radikalisme Islam yang saat ini menggeliat adalah gambaran dari krisis identitas yang dialami sebagian saudara muslim kita. Krisis ini mengacu pada ketidakmengakaran keislaman dengan kultur Nusantara yang menjadi lambaran dasarnya. Maka, solusi atas radikalisme Islam adalah kembali pada keindonesiaan Islam.
Setidaknya tesis inilah yang digelar oleh Syaiful Arif dalam buku bertajuk Deradikalisasi Islam, Paradigma dan Strategi Islam Kultural ini. Dikatakan paradigma, karena Arif melakukan pemilahan pola-pikir antara "yang budaya" dan "yang politik" dalam Islam. Sepertinya, penulis buku Biografi Intelektual Gus Dur (2009) ini terinspirasi oleh pemilahan Gus Dur atas pendekatan budaya dan pendekatan institusional dalam Islam. |
| selengkapnya |
 |
Resensi
Menggali Jawaban Alternatif dari Gus Dur
Minggu, 18 Juli 2010 13:12:29 |
Judul : Gus Dur Menjawab Perubahan Zaman,
Warisan Pemikiran K.H. Abdurrahman Wahid
Penulis : Abdurrahman Wahid
Penerbit : Penerbit Buku Kompas, Jakarta
Terbit : Januari 2010
Peresensi : Mahbib Khoiron
Bahwa Gus Dur terkenal sebagai penebar kontroversi tidak bisa dipungkiri lagi. Namun apakah ia inkonsisten dalam tindakan dan ide-idenya, tentu harus didudukkan kembali. Greg Barton dalam sebuah tulisannya memuji Gus Dur sebagai figur terbaik yang senantiasa konsisten dalam pikiran-pikrannya. Kita lantas mafhum bahwa dalam diri seorang tokoh bisa saja menyimpan karekter ganda sekaligus: satu sisi ia konsisten tapi di sisi lain ia kontroversial.
Menelusuri alur pemikiran Gus Dur merupakan kerja ilmiah tersendiri. Pasalnya, tokoh yang satu ini selain melintas, bermain, dan terlibat langsung dalam pelbagai diskursus, kini ia telah menjadi sebuah diskursus itu sendiri. Banyak jalan yang bisa dipakai untuk memahami kompleksitas tingkah laku politik dan gaya unik aktifitas Gus Dur lainnya. Di samping menengok historisitas perjalanan hidup Gus Dur, hal paling lumrah dan jamak dilakukan peneliti adalah membaca akar epistemologis dan jalan pikirannya melalui uraian-uraian tertulis yang tersebar dalam bermacam bentuk tulisan. Mengingat, Gus Dur sendiri terkenal sebagai penulis produktif bercakupan luas yang turut menyesaki ruang media nasional. |
| selengkapnya |
 |
Menabur Benih Islam Ramah yang menjadi Rahmah
Senin, 03 Mei 2010 17:04:27 |
Judul Buku : Cermin Bening dari Pesantren
Penulis : Rizal Mumazziq Z.
Penerbit : Khalista, Surabaya
Cetakan : I, 2009
Peresensi : A. Khoirul Anam*)
Sosok kiai kerapkali diasosiasikan dengan tokoh konservatif dan jumud. Ini adalah interpretasi yang sangat apriori. Gambaran demikian sebenarnya sangat kasuistik dan bersifat per-sonal karena sosok kiai (sebagai bagian dari kelompok sosial seperti manusia lainnya) memiliki sifat, pola pikir, dan karakter yang berbeda-beda.
Sungguhpun demikian, pandangan-pandangan sumir terhadap kiai—biasanya dilakukan oleh para modernis dan puritan—tetap tak mampu menggeser pengaruh kiai di masyarakat. Keberadaan pesantren yang manunggal dengan lingkungan sekitarnya, memang unik. Ia seperti berada di wilayah periferi kekuasaan negara, sekaligus hadir di jantung masyarakat. Dan, sebagai figur sentral pesantren dan masyarakat, kiai dituntut bersikap kontekstual, fleksibel dan elastis menyikapi dinamika sosial, sekaligus menjaga agar jatidiri dan sistem nilai pesantren tak luntur. Dalam strategi sosial kebudayaan, kepercayaan diri self confidence yang berkelindan dengan sikap pertahanan diri (self defensive) seperti ini, akan memberikan landasan kuat bagi transformasi sosial. |
| selengkapnya |
 |
Jalan Terjal Santri Menjadi Penulis
Verba volant, scripta manent
Kamis, 07 Januari 2010 17:51:15 |
Judul Buku : Jalan Terjal Santri Menjadi Penulis
Penulis : Rizal Mumazziq Zionis, dkk.
Editor : Tsanin A. Zuhairi, S,Hi, M.Si.
Prolog : Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si
Penerbit : Muara Progresif, Surabaya
Cetakan : I; 2009
Tebal : vii + 224 halaman
Peresensi : Anwar Nuris*
Verba volant, scripta manent
(kata-kata akan sirna, tulisan akan membuatnya abadi)
Di tengah maraknya santri pesantren saat ini yang sindrom jejaring sosial semacam Facebook sebagai media sharing dan menulis, terdapat anekdot menarik yang berkembang dikalangan mereka. Seorang santri yang tidak mau dan mampu menulis, ibarat burung bersayap satu. Burung itu hanya mampu meloncat dari satu dahan ke dahan yang lain, atau terbang pendek dari satu pohon ke pohon lain yang jaraknya sangat dekat. Santri yang tidak mau menulis hanya mampu mengaji dan mengkaji dari satu halaqah ke halaqah yang lain. Santri yang mau menulis akan mampu mengembangkan pemikiran dan ilmu mereka lebih luas, tanpa dibatasi oleh sekat apapun, terlebih di era digital seperti sekarang ini. |
| selengkapnya |
 |
Merebut Teks Gus Dur
Jumat, 07 Agustus 2009 01:21:27 |
Judul : Gus Dur dan Ilmu Sosial Transformatif: Sebuah Biografi Intelektual
Penulis : Syaiful Arif
Penerbit : Koekoesan. Depok
Tahun : Juli, 2009
Peresensi : Redaksi
Sosok KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mungkin telah mengalami defisit politik. Setidaknya hal itu bisa kita lihat dari berbagai kekalahan strukturalnya, sejak kegagalan pencalonan presiden pada Pemilu 2004, hingga terlepasnya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dari otoritasnya, pada Pemilu 2009 ini. Gus Dur seakan hilang dari peta politik nasional, dan kiprahnya tinggal sejarah yang diperingati.
Namun, membincang sosok yang sering terdaulat sebagai guru bangsa ini, tak sesempit politik praktis. Senyatanya, kebesaran cucu Hadlratus Syaikh Hasyim Asy’ari ini tetap terasakan, dengan bukti seabrek tanya kritis dan harapan yang tetap tertumpu padanya, dalam konteks pencarian Indonesia alternatif. Hal ini beralasan sebab perjuangan Gus Dur di negeri ini tidak sebatas PKB. Perjuangannya, telah menjulur lama sejak negeri ini terhegemoni negara Leviathan, Orde Baru. |
| selengkapnya |
 |
Jawa di Persimpangan Jalan
Jumat, 24 Juli 2009 11:59:21 |
Judul : Nusa Jawa, Silang Budaya
Judul Asli : Le Carrefour Javanais
Essai d’histoire globale
Penulis : Denys Lombard
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2005
Peresensi : Sueb Wiranggaleng
Jawa adalah persilangan. Sebagai sebuah persilangan tidak pelak Jawa telah dilalui beragam kebudayaan dengan keunikan dan kekayaan masing-masing. Posisinya yang strategis juga telah menarik sejumlah pencatat untuk mengabadikan. Mulanya hanyalah catatan perjalanan, ringan, dan menjadi kenangan. Lebih serius ditulislah sejarah: tentang alam Jawa yang elok, teduh, subur dan makmur.
Pada akhirnya, mereka yang datang tidak hanya melancong atau sekedar menginap satu-dua malam. Mereka menetap dalam waktu yang lama dan membaurkan diri. Sebuah perjumpaan kebudayaan telah terjadi di sini, kemudian proses akulturasi tak dapat dihindari. Untuk kita yang hidup belakangan fakta ini tentu menjadi sangat menarik untuk dilihat. |
| selengkapnya |
 |
Model Kebudayaan
Kamis, 23 Juli 2009 21:42:02 |
Judul : Culture,
Karya : Chris Jenks
Penerbit : London: Routledge, 1993
Tebal : 182 + x
Peresensi: Syaiful Arif
Dalam buku Culture, Chris Jenks mencoba memilah tiga model kebudayaan. Pemilahan ini merupakan satu tandas, bahwa kebudayaan bukan ansich temuan diskursif era modern, tetapi ia lebih merupakan kesinambungan tradisi pemikiran yang berjalin dengan semangat zaman. Sering, ketiga model ini berbenturan, saling meniadakan dan melahirkan, karena berpijak pada arah yang tak sama.
Model pertama, kebudayaan sebagai kategori kognitif (cognitive category). Ia merujuk pada ide tentang kesempurnaan (the idea of perfection) serta tujuan individu untuk melakukan emansipasi. Kebudayaan kemudian menjelma keadaan umum dari pemikiran, sehingga ia melahirkan kritik atas gerak pemikiran. Model ini kita temukan dalam kritik Frankfurt School atas kesadaran palsu (false consciousness), yang merujuk pada komitmen atas realitas atau kebenaran otentik dalam diri manusia. |
| selengkapnya |
 |
Menolak Definisi Kebudayaan
Kamis, 23 Juli 2009 21:36:55 |
Judul : The Experience of Culture,
Karya : Michael Ricardson
Penerbit : London: Sage Publication, 2001
Tebal : 179 + viii
Peresensi : Ahmad Syatori
Ketika untuk kali pertama menginjakkan kaki di Pesantren Lirboyo, saya mendapat sebuah pengalaman yang sedikit menyentak. Waktu itu saya diantar oleh saudara saya yang alumni Lirboyo dan sudah jadi kyai menemui sang pengasuh pesantren. Saya mendapati keanehan pada saudara saya itu pada saat berkomunikasi dengan sang pengasuh. Dia duduk bersimpuh, kepala tertunduk dan sama sekali tidak berani memandang wajah sang pengasuh saat berbicara. Dia tampak begitu ta’dzim. Ini aneh, dia yang saya kenal dirumah sebagai sosok yang galak, tak kenal kompromi dan suka nyuruh-nyuruh, di depan kyai itu tampak ‘tak berdaya’. Saya membatin, “Apa yang salah dengan dia ya....perasaan di rumah (yang sama-sama pesantren) gak gini-gini amat deh kalo bertemu kyai”. Waktu itu, saya yang masih ‘polos’ mengikuti saja apa yang dilakukan saudara saya, menunjukkan sikap yang begitu ta’dzim. Lagi pula, apa salahnya, itung-itung memberikan kesan kepada sang kyai kalau saya calon santri yang baik, penurut dan punya tatakrama, sambil berharap mendapat ‘barokah’ darinya (barokah kan bisa berarti kemudahan akses dan fasilitas pesantren, perlakuan yang baik selama di pesantren, atau yang idealisnya, bisa cepat memperoleh ‘futuh’ dalam menuntut ilmu dan mendapat ilmu yang bermanfaat).
Setelah waktu berjalan, saya masih belum mengerti apa makna di balik ‘ritual’ itu. Saya juga tidak terfikir untuk mencari tahu. Kendati demikian, saya tetap menjalaninya tatkala saya hendak pamit pulang atau ‘melapor’ sekembalinya dari rumah. Lagi-lagi dengan harapan mendapat barokah itu. Lagi pula, apalah pentingnya segala macam arti dan makna itu. Yang penting kan saya bisa melakoninya seperti yang lain dan saya bisa mendapatkan kehidupan ‘normal’ di pesantren itu. |
| selengkapnya |
 |
Einstein versus Taurat dan Injil
Selasa, 28 April 2009 01:11:18 |
Judul Buku: Einstein Membantah Taurat dan Injil
Penulis: Wisnu Arya Wardhana
Penerbit: Putaka Pelajar
Cetakan: I, November 2008
Tebal: xxxiv + 258
Peresensi: Sulistiyo Eko
Agama adalah suatu kepasrahan dan penyerahan diri manusia kepada kekuatan yang Maha Tinggi yang dipercayai mengatur dan mengendalikan kehidupan umat manusia dan ala semesta ini. (J.G. Frazer)
Einstein adalah sosok ilmuwan yang terkenal cerdas, sehingga teori dan penemuannya tidak diragukan lagi, walaupun teorinya sempat disangkal para fisikawan papan atas. Dia juga selalau mengedepankan rasionya untuk menanggapi berbagai hal, tidak terkecuali dengan agama, khususnya agama Yahudi dan Katolik. Lahir dari kecerdasan otaknya itulah, akhirnya muncul pembantahan-pembantahan Einstein terhadap Kitab Talmud (Taurat) dan sekaligus Kitab Kanonik (Injil). Berawal dari pembantahan itu, banyak orang yang geram terhadap Einstein, termasuk Vatikan, bahkan sebagian orang menganggap bahwa Eintein adalah seorang ateis, walaupun dia mempercayai adanya Tuhan. |
| selengkapnya |
 |
Pancasila sebagai Nuqthotul Liqo’
Rabu, 08 April 2009 12:16:30 |
Judul Buku: “Negara Pancasila: Jalan Kemaslahatan Berbangsa”
Penulis: As’ad Said Ali
Pengantar: KH A. Mustofa Bisri
Penerbit: LP3ES Jakarta
Cetakan: I, Februari 2009
Tebal: 340 halaman + xxxii
Peresensi: A. Khoirul Anam
Pada saat era reformasi “dibunyikan” sebagian elemen bangsa ini masih trauma dengan Pancasila. Praktis pada masa Orde Baru Pancasila hanya menjadi milik pemerintah. Rakyat tidak diperkenankan memberikan interpretasi terhadap Pancasila. Anak-anak sekolah diwajibkan mengikuti penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) sebagai interpretasi tunggal Pancasila. Semua organisasi dan partai politik diharuskan mencantumkan Pancasila sebagai asas, namun tidak diperkenankan menjelaskan apapun tentang Pancasila. Yang miris, Pancasila menjadi alat untuk membungkam orang-orang yang kritis; yang berbeda dengan pemerintah dianggap tidak pancasilais.
Kini Pancasila telah dikembalikan kepada rakyat Indonesia. Sebagian elemen bangsa masih segan mengambil kembali miliknya. Sebagian langsung menyambut hangat Pancasila sebagai ”tenaga dalam” untuk membangunkan kembali bangsa Indonesia dari masa krisis. Namun betapapun dan dalam kondisi apapun tidak ada yang sanggup untuk tidak mengindahkan Pancasila, yang berarti lima sila yakni ”Ketuhanan Yang Maha Esa; Kemanusiaan yang adil dan beradab; Persatuan Indonesia; Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan; dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Lima sila ini juga dicantumkan dalam teks Pembukaan Undang Undang Dasar (UUD) 1945. |
| selengkapnya |
|
|
| Kembali ke atas |
|
|
|
 |
 |
 |
 |
 |
|
 |
 | September 2010 |  | | Mg | Sn | Sl | Rb | Km | Jm | Sb | | | | | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | | |
|
|
 |
|
|
|