 |
 |
 |
 |
 |
|
 |
 |
 |
 |
 |
|
|
| |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
 |
 |
|
 |
| Melacak Jejak Indonesianis |
 |
|
|
|
| Tokoh |
 |
Tokoh
Biografi Leon Trotsky
Senin, 19 Juli 2010 19:09:30 |
Leon Trotsky, nama aslinya adalah Lev Davidovich Bronstein, dilahirkan pada tanggal 7 November 1879, adalah seorang revolusioner dan ahli teori Marxis. Bersama dengan Lenin, dia adalah salah seorang pemimpin Revolusi Oktober 1917, yakni revolusi buruh yang pertama di dunia yang berhasil menumbangkan kapitalisme. |
| selengkapnya |
 |
KH RADEN ASNAWI
Berjalan Kaki 18 Km. ke Gunung Muria untuk Mengajar
Senin, 03 Mei 2010 17:07:02 |
Kudus adalah daerah yang terkenal dengan nama kota Kretek dan kota Santri dalam wilayah propinsi Jawa Tengah. Kota ini dibangun oleh Sunan Kudus (Sayyid Ja’far Shodiq) dengan rentetan historisitas yang berpusat pada kerajaan Islam pertama di Jawa (Demak). Hal ini ditengarai dari inskripsi batu nisan yang ada di atas mihrab Masjid al-Aqsha Menara Kudus.
Di belakang Masjid al-Aqsa Menara Kudus inilah, di Komplek Makam Sunan Kudus, hampir selalu ada saja yang mengaji. Baik yang dengan tujuan untuk berziarah, maupun santri yang niat tabarrukan agar diberi kemudahan dalam berbagai urusan. Di antara deretan nisan di komplek makam tersebut, terdapat makam KH Raden Asnawi. Salah seorang ulama keturunan ke-14 Sunan Kudus (Raden Ja’far Shodiq) dan keturunan ke-5 KH Mutamakkin Kajen, Margoyoso, Pati. |
| selengkapnya |
 |
KH ABDUL WAHID HASYIM
Sifat Manusiawi Sang Tokoh di Mata KH Syaifuddin Zuhri
Kamis, 07 Januari 2010 17:40:33 |
KH. Abdul Wahid Hasyim lahir pada tanggal 1 juni 1914 di Tebuireng Jombang. Membidani terbitnya majalah bulanan bernama “Suluh Nahdlatul Ulama” yang diasuh dan dikemudikan dari tengah-tengah Pesantren Tebuireng. Majalah ini menjadi mimbar dan sekaligus menara Nahdlatul Ulama (NU). Melalui penerbitan majalah inilah, KH. Abdul Wahid Hasyim mengakui rasa simpatinya pada karya-karya KH Saifuddin Zuhri yang tersebar di berbagai media NU seperti “Berita NU” di Surabaya, Majalah bulanan “Suara Ansor NU” di Surabaya, Majalah bulanan “Trompet Pemuda” terbitan Ansor NU Cabang Kudus, Majalah bulanan berbahasa Jawa “Panggugah” diterbitkan Konsulat NU Banyumas dan Mingguan “Pesat” yang berisi berita-berita politik populer di Semarang.
Dari sinilah KH A. Wahid Hasyim kemudian meminta KH Syaifuddin Zuhri untuk menulis dalam “Suluh NU” yang diasuhnya. Selama hampir 3 kemudian KH Syaifuddin Zuhri secara tetap, membantu menulis dalam “Suluh NU” hingga dilarang terbit oleh pemerintahan militer Jepang pada tahun 1942 M.
Awalnya, KH. Abdul Wahid Hasyim berkiprah sebagai Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama pada tingkat Cabang Jombang, kemudian melompat menjadi Ketua Pengurus Pusat Ma’arif NU dan berkantor di Surabaya. |
| selengkapnya |
 |
KH ZAINUL ARIFIN
Mengenang Seabad Sang Wakil Perdana Menteri
Senin, 02 November 2009 05:37:57 |
Putera Melayu-Batak yang kepribadian yang tegas, tetapi sekaligus luwes dan supel dalam bergaul ini meninggal pada tanggal 2 Maret 1963 setelah dirawat akibat tembakan yang menembus dadanya ketika sedang Shalat Idul Adha bersama Presiden Soekarno di lapangan terbuka depan Istana Negara, 14 Mei 1962 M. Tahun ini, tepatnya 2 September 2009, merupakan peringatan hari lahir ke-100 Pahlawan Kemerdekaan Nasional Indonesia, Kiai Haji Zainul Arifin.
Istana, Pencak Silat dan Stambul Bangsawan
Zainul Arifin dilahirkan di Barus, Tapanuli Tengah, pada 2 September 1909. Ayahnya adalah Sultan Ramali bin Tuangku Raja Barus Sultan Sahi Alam Pohan, penguasa suku Pesisi (Melayu). Sedangkan ibunya Siti Baiyah Nasution, perempuan bangsawan dari etnik Melayu Mandailing. Ketika Zainul masih balita orang tuanya berpisah dan ia mengikuti ibunya yang menikah lagi serta membawanya pindah ke Sungai Penuh, Kerinci, Jambi. Di sana ia menyelesaikan HIS (Hollands Indische School), sekolah dasar berbahasa Belanda dan kemudian melanjutkan ke sekolah menengah keguruan Normal School.
Zainul Arifin juga memperdalam pengetahuan agama di Madrasah dan surau, serta menjalani pelatihan seni bela diri Pencak Silat. Selain bersekolah formal, Arifin juga seorang pecinta kesenian yang aktif dalam kegiatan seni sandiwara musikal melayu, Stambul Bangsawan, sebagai penyanyi dan pemain biola. Stambul Bangsawan merupakan awal perkembangan seni panggung sandiwara modern Indonesia. Kesukaannya ini kelak akan membawa Zainul terlibat dengan Gerakan Pemuda Ansor dan setelahnya, Nahdlatul Ulama (NU) di Batavia. |
| selengkapnya |
 |
KH. ZAINI ABDUL MUN’IM
Ulama Pejuang dan Perintis Pertanian Tembakau
Selasa, 28 April 2009 01:08:11 |
Nama Probolinggo telah ada sejak tahun 1359 M. (1281 Saka). Ketika Prabu Hayam Wuruk berhasil mempersatukan Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit tahun 1357 M (1279 Saka) atas jerih payah Maha Patih Mada, rombongan pembesar kerajaan kemudian bermuhibah ke daerah ini dan enggan kembali. Sehingga ketika sang prabu sedang linggih (duduk) merenugi keindahan kawasan ini, maka kawasan ini dinamakan oleh masyarakat sebagai Prabu Linggih. Setelah mengalami proses perubahan ucapan, kata Prabu Linggih kemudian berubah menjadi Probo Linggo (Probolinggo). Daerah ini merupakan salah satu bagian dari Propinsi Jawa Timur yang terletak di kaki Gunung Semeru, Gunung Argopuro dan Pegunungan Tengger dengan luas sekitar 1.696,166 Km persegi.
Paiton adalah adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur yang terkenal dengan kehadiran kompleks Pembangkit Listrik-nya. Kawasan ini berada pada garis pantai yang menghadap ke selat Madura. Kawasan ini juga merupakan daerah penghasil tembakau. Karenanya banyak sekali masyarakat Paiton yang bekerja sebagai petani, nelayan dan pedagang barter seperti tembakau (blandang).
Dengan letak geografis yang cukup menguntungkan dalam perdagangan laut, terutama nelayannya, maka banyak nelayan dari Pasuruan; Sampang, Madura; Muncar, Banyuwangi yang singgah di sini. Karenanya, mayoritas penduduk di kawasan ini adalah etnis Madura. Sehingga dengan sendirinya, sebagaimana umumnya karakter masyarakat etnis madura, Paiton juga merupakan kawasan masyarakat santri yang memiliki banyak pesantren sebagai tempat mendidik generasi mudanya. |
| selengkapnya |
 |
KH DIMYATI BANYUWANGI
Komandan Hizbullah Pendiri Madrasah Pertama di Blambangan Selatan
Rabu, 08 April 2009 12:00:41 |
Pada zaman-zaman perjuangan merebut kemerdekaan, banyak sekali korban yang harus dipertaruhkan oleh bangsa Indonesia. Tak terhitung lagi korban yang telah dipersembahkan demi sebuah kemerdekaan. Bukan sekedar harta dan nyawa, namun juga perasaan terhinakan karena terus dikejar-kejar dan terusir dari kampung halaman. Namun tentu saja banyak sekali para pahlawan yang justru memanfaatkannya untuk berjuang di dua ranah, yakni perjuangan fisik dengan mengangkat senjata dan perjuangan dakwah dengan mendidik generasi penerus bangsa.
Salah satu di antara sekian banyak para pahlawan bangsa yang berjuang di dalam dua medan perjuangan sekaligus ini adalah KH Dimyati Banyuwangi. Seorang ulama kharismatik yang telah memiliki banyak jasa bagi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Beliau adalah salah satu di antara para ulama Nahdlatul Ulama dengan andil besar dalam perjuangan fisik yang berpuncak pada meletusnya Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama.
Salah satu bentuk sumbangsih nyata bagi perjuangan fisik merebut kemerdekaan adalah fatwa Beliau yang berbunyi, “seluruh santri santri di daerah Banyuwangi selatan (kawasan Blambangan lama) wajib masuk Hizbullah.” Fatwa ini memiliki konsekwensi yang cukup besar bagi santri-santri di kawasan Banyuwangi selatan. Dengan adanya fatwa ini, para santri memiliki tugas ganda. Pada malam hari mereka harus mengendap-endap untuk menyerang pos-pos keamanan tentara Belanda dan Jepang. |
| selengkapnya |
 |
PANGERAN ANTASARI
Hikayat Perang Sabil
Selasa, 24 Maret 2009 18:41:12 |
Pangeran Antasari (lahir: 1797, Kalimantan Selatan –wafat: Bayan Begak, Murung Raya, Kalimantan Tengah, 11 Oktober 1862) adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Beliau meninggal karena penyakit cacar di pedalaman sungai Barito, Kalimantan Tengah. Kerangkanya dipindahkan ke Banjarmasin dan dimakamkan kembali di Taman Makam Perang Banjar (Komplek Makam Pangeran Antasari), Banjarmasin Utara, Banjarmasin. Perjuangan beliau dilanjutkan oleh keturunannya Sultan Muhammad Seman dan cucunya Ratu Zaleha.
Pada 14 Maret 1862 menyandang gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin dihadapan para kepala suku Dayak dan adipati (gubernur) penguasa wilayah Tanah Dusun Atas, Kapuas dan Kahayan yaitu Kiai Adipati Jaya Raja.
Semasa muda nama beliau adalah Gusti Inu Kartapati. Ayah Pangeran Antsari adalah Pangeran Masohut (Mas'ud) bin Pangeran Amir bin Sultan Muhammad Aminullah dan ibunya Gusti Hadijah binti Sultan Sulaiman. Pangeran Antasari mempunyai adik perempuan yang bernama Ratu Antasari yang menikah dengan Sultan Muda Abdurrahman tetapi meninggal lebih dulu sebelum memberi keturunan.
Ia pernah meledakkan kapal milik Belanda yang bernama Kapal Onrust dan juga dengan pemimpin-pemimpinnya yang bernama Letnan der Velde dan Letnan Bangert. |
| selengkapnya |
 |
Pangeran Diponegoro
Senin, 14 April 2008 12:11:45 |
Pangeran Diponegoro nama aslinya adalah Raden Mas Ontowiryo, lahir di Yogyakarta tanggal 11 Nopember 1785. Ayahnya Sultan Hamengku Buwono III mengangkatnya sebagai raja, tapi Pangeran Diponegoro menolak dengan alasan karena ibunya bukan permaisuri.
Ditahun 1820-an kompen Belanda sudah memasuki dan mencampuri urusan kerajaan-kerajaan Yogyakarta. Peraturan tata tertib dibuat oleh pemerintah Belanda yang sangat merendahkan martabat raja-raja Jawa. Para bangsawan diadu domba. Tanah-tanah kerajaan banyak yang diambil untuk perkebunan milik pengusaha-pengusaha Belanda. |
| selengkapnya |
|
|
| Kembali ke atas |
|
|
|
 |
 |
 |
 |
 |
|
 |
 | September 2010 |  | | Mg | Sn | Sl | Rb | Km | Jm | Sb | | | | | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | | |
|
|
 |
|
|
|