Home Profil Selayang Pandang Struktur Kontak   Bahasa Indonesia English Arabic
 
Liputan
Pemikiran Gus Dur
Pengajian
Artikel
Nuansa Pesantren
Resensi Buku
Tokoh
Jurnal Ciganjur
Sastra
Humor
Budaya
Galeri
Video
Agenda
Link
Buku Tamu
Melacak Jejak Indonesianis
 admin
 webmaster
Jurnal Ciganjur
Melacak Jejak Indonesianis
Jumat, 24 Juli 2009 03:23:31
Pengantar
oleh Ayang Utriza NWAY

MA dalam Sejarah dari École des Hautes Études en Sciences Sociales (EHESS) Paris, mengajar di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan peneliti di Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta.

Lombard dan Tradisi Penulisan Sejarah Perancis
Le Carrefour Javanais adalah karya besar sejarahwan Perancis Denys Lombard yang bercerita tentang sejarah Nusantara, khususnya Jawa. Berbeda dengan para sejarahwan konvensional, Lombard tidak begitu tertarik dengan sejarah peristiwa (l’histoire événementielle) seperti karya M.C. Ricklefs Modern Indonesian History. Lombard lebih tertarik pada semua aspek sejarah, seperti teknik pembuatan kertas, perahu, batik dan hal-hal kecil lain. Dia lebih senang menuliskan sesuatu yang menurut kita, orang Indonesia, bukanlah hal yang menarik. Menurutnya, sejarah yang remeh-temeh itu menggambarkan perkembangan mentalitas dan kebudayaan suatu bangsa.
Sampai abad ke-19, penulisan sejarah di Perancis terfokus pada sejarah-sejarah politik atau sejarah-sejarah besar. Baru pada akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20 muncullah pendekatan penulisan sejarah baru (la nouvelle histoire). Tokoh pencetusnya yang terkemuka adalah Henri Berr (1863-1954). Dia mencoba membuat paradigma dan epistemologi sejarah yang baru. Tokoh lain yang mempelopori penulisan sejarah baru itu adalah Lucien Febvre (1878-1956) dan Marc Bloch (1866-1944). Belakangan dua orang inilah yang lebih dikenal sebagai pelopor la nouvelle histoire itu.
selengkapnya
Politik Kebudayaan: Tentang Asal Muasal Subjek
Kamis, 23 Juli 2009 18:58:17
Tim Redaksi

Abstrak
Apa yang tersisa dari kajian kebudayaan jika secara definitif ia (kebudayaan) tidak lagi dipersoalkan, seolah masing-masing cara pandang memiliki keabsahan pemaknaan terhadapnya dan bagaimana sebuah kajian kebudayaan dapat terhenti hanya pada terma kebudayaan tanpa menilik makna dibaliknya, atau sebatas mempersoalkan apa dan bagaimananya kebudayaan suatu masyarakat dan bagaimana ia dapat berbeda dengan kebudayaan masyarakat lainnya? Tulisan hasil riset tim redaksi ini berusaha menunjukkan bahwa persoalan kebudayaan justru terletak pada makna di balik istilah itu. Kecanggihan analitis serta kemutakhiran deskripsi kebudayaan tidak akan berarti apa-apa jika ia mengabaikan asal-muasal penggunaannya. Sebut saja para antropolog yang pada mulanya memopulerkan istilah ini dengan menempatkannya sebagai objek studi yang ilmiah. Alhasil, bukannya hasil kerja antropolog itu memberikan titik terang atas berbagai persoalan eksistensial manusia, melainkan justru mengubur dan mengaburkannya dalam sebuah perdebatan teoritis yang abstrak. Ironisnya, pandangan ini ternyata tidak hanya menjadi domain representasi perspektif akademik, tetapi bahkan telah diafirmasi hampir tanpa persoalan oleh pandangan di luar dunia akademis. Berangkat dari titik ini, tim riset berikhtiar untuk menguak kembali persoalan yang tenggelam dalam kajian-kajian kebudayaan, yakni persoalan tentang subjek (manusia). Tanpa sikap kritis hampir mustahil kita dapat menangkap bahwa di balik praktek-praktek kebudayaan sesungguhnya menyimpan aneka permainan kekuasaan. Praktek kebudayaan yang demikian tidak lain merupakan bentuk politisasi kebudayan. Politik kebudayaan mengandaikan bahwa kebudayaan dijadikan sebagai alat legitimasi beroperasinya kekuasaan dalam relasi dominasi. Pada konteks ini, persoalan kebudayaan berkaitan dengan bagaimana sejarah terbentuknya praktek sosial tertentu suatu masyarakat. Politik kebudayaan merupakan suatu proses di mana kebudayakan dijadikan sebagai alat untuk mengesahkan stratifikasi sosial atau sebuah proses dominasi yang dilanggengkan oleh praktek-praktek kebudayaan.
Kata kunci: kebudayaan, politik kebudayaan, kajian kebudayaan, praktek kekuasaan, sejarah subjek.
 
selengkapnya
Konsensus Nasional: Perspektif Rasio Komunikatif Jürgen Habermas
Selasa, 24 Maret 2009 21:13:19
Oleh: Chatibul Umam Wiranu
Mantan Anggota DPR-RI 2000, Direktur Strategy Institute, Jakarta
 
Pendahuluan
Setiap penguasa membutuhkan legitimasi dalam menjalankan roda kekuasaan. Fasilitas kekuasaan yang berlimpah yang ditandai dengan dukungan massa yang besar, infrastruktur materi serta loyalitas dari kalangan militer memberikan kesempatan yang sangat besar bagi penguasa untuk menjalankan dan menciptakan stabilitas. Semua dukungan tersebut adalah rangkaian legitimasi yang diperoleh oleh penguasa agar rakyat pun tanpa ragu mengikuti titahnya. Terkadang, dalam upaya memperoleh legitimasi kekuasaan, penguasa melakukan berbagai cara, mulai dari tindakan yang arif, bijak serta demokratis, hingga jalur-jalur kekerasan.

Awal masa kekuasaan Orde Baru pun tidak lepas dari fenomena tersebut. Peran Soeharto sebagai penguasa pada dasarnya tidak bisa dipandang secara hitam putih, antara berupaya memperoleh legitimasi kekuasan dengan cara arif, bijak dan demokratis atau melalui jalur kekerasan. Secara umum, penulis memandang sebuah sikap kekuasaan di masa Orde Baru yang berupaya meraih peluang legitimasi di antaranya dengan membalut jalur-jalur kekerasan dan pemaksaan dengan cara arif, bijak hingga terkesan demokratis. Dalam konteks inilah wacana konsensus menjadi sesuatu yang relevan untuk diperbincangkan.

Salah satu kekuatan yang sulit ditentang oleh para penentang Orde Baru di awal masa kekuasaannya adalah legitimasi yang ia peroleh dari elemen kekuatan pendukung kekuasaan, seperti militer serta para ilmuwan dan cendikiawan. Merekalah yang membangun tatanan kekuasaan Orde Baru yang tampak stabil dan kuat dengan loyalitas penuh rakyat di bawah payung konsensus nasional.
selengkapnya
Dehistorisasi Islam "Indonesia"
Selasa, 10 Februari 2009 11:09:00

FENOMENA keberislaman di negeri ini semakin mengarah pada ketercerabutan jati diri yang telah mencapai titik mapan. Ia telah lama mengarah pada proses “dehistorisasi” Islam Indonesia. Yakni, sebuah kondisi dimana geliat kehidupan Islam, khususnya yang terlihat diruang publik, telah melangkah jauh meninggalkan akar kesejarahan serta permasalahan orisinil Islam di Indonesia. Jika kita membaca perdebatan Islam baik di media, seminar, hingga penerbitan buku, maka yang bertarung adalah dua macam fundamentalisme: Islamisme vis a vis liberalisme.

Kegelisahan ini mungkin dianggap mengada-ada, karena semua fenomena tersebut sudah menjelma fakta. Mata publik kita tersedot kepadanya. Hanya saja, ia berangkat dari satu keprihatinan ‘nasionalistik’, ketika menyaksikan bandul keberislaman kita kok lebih bergerak ke arah ‘luar’: kalau tidak Islamis, ya westernis. Artinya, diskursus Islam yang mengemuka selalu dijul-beli oleh dua agenda ‘luar’ yang saling bertentangan: Barat vis a vis Islam (is).

selengkapnya
Page  [ 1 of 4 ]
1
Kembali ke atas
Tokoh Resensi
Galeri
Agenda
September 2010
MgSnSlRbKmJmSb
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  
Polling
Apakah Anda Optimis akan Terjadi Perubahan di dalam tata dan kinerja organisasi NU setelah Muktamar ke-32 NU di Makassar?
 Ya. Saya sangat optimis akan terjadi perubahan yang lebih baik di NU setelah Muktamar Makassar
 Ya. saya cukup berharap akan ada perubahan di NU setelah muktamar di Makassar.
 Tidak. NU akan tetap seperti sediakala. Kalaupun ada perubahan, pasti sangat sedikit
 Tidak. Saya pesimis NU akan tetap amburadul seperti sebelumnya, terutama di bidang politik praktis. Siapapun pemimpinnya
 Arsip Polling
 
Liputan
Pemikiran Gus Dur
Pengajian
Artikel
Nuansa Pesantren
Resensi Buku
Tokoh
Jurnal Ciganjur
Sastra
Humor
Budaya
© 2009 Pesentren Ciganjur. All right reserved.Powered by BWI SOLUTION
Best viewed width IE 7 or above in 1280 x 800 monitor resolution