Diwan Nabighot adalah salah satu Materi Pengajian rutin KH Abdurrahman Wahid dalam acara Kongkow Bareng Gus Dur di radio 68 H Jakarta, pada pukul 10.00 WIB. Menurut pendampingnya, yakni KH Abdul Wahid (Achun) Maryanto, konon, Gus Dur biasa menggunakan syair-syair dalam Diwan Nabighot dan Mu'allaqoh Sab' untuk merayu (bersurat-suratan) dengan mantan kekasihnya dahulu.
Konon juga, mengapa Gus Dur memilih kitab-kitab sastra kuno tersebut sebagai materi Pengantar dalam pengajiannya tersebut, adalah atas "rengekan" dari mantan kekasihnya tersebut. "Untuk mengenang masa lalu," kata mentan kekasihnya ini. Sementara Gus Dur dengan enteng menjawab, "Lha daripada kena marah?"
Sekarang mantan kekasihnya ini, karena dirayu betrtahun-tahun, bersedia setia untuk selalu mendampinginya dalam segala suka dan duka. Dan Beliau kini telah menjadi idola dan teladan bagi berjuta-juta wanita lainnya di Nusantara. Setelah turut berjuang selama mendampingi mantan kekasihnya (Gus Dur), Beliau kini mampu menjadi inspirator bagi pergerakan kaumnya. Dan sang mantan kekasih yang dirayu dengan syair-syair kuno tersebut, tiada lain adalah Ibunda Nyai Hj. Shinta Nuriyah.
Kini tentang bait-bait Syair tersebut :
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على سيد المرسلين نبينا محمد وعلى أله وصحبه أجمعين
Segala puji bagi Allah yang memelihara seluruh Alam. Sholawat salam (semoga) selalu tercurah kepada junjungan para Rasul, yakni Muhammad SAW beserta segenap keluarga dan seluruh sahabatnya.
وبعد : فقد حفل العصر الجاهلي بكوكبة من الشعراء المشهورين الذين حلفوا لنا تراثا أدبيا فذا أمكننا بوساطته الإطلاع على حياة أولئك الأسلاف الذين لولا الشعر لفقدنا كثيرا من المعلومات التي تتعلق بحياتهم وتفاصلها وقضاياها
Sungguh, zaman jahiliyah dimeriahkan oleh bintang-bintang pujangga termasyhur yang telah meninggalkan tradisi sastra yang tiada bandingannya kepada kita. Tradisi inilah yang memungkinkan kita mengungkap kehidupan. Seandainya tiada syair tentu kita akan kehilangan banyak sekali bahan informasi tentang kisah hidup dan peninggalan mereka. |